Selasa, 26 September 2017

Yuk Konsumsi Daging Ayam dan Telur Menuju Indonesia Sehat dan Cerdas

Hidup sebagai generasi di era teknologi seperti sekarang ini memang sangat membanggakan. Berkat kemajuan teknologi yang berkembang pesat, banyak sekali kreasi spetakuler yang tak pernah terbayangkan sebelumnya tercipta dari tangan dingin para inventor dunia dalam berbagai bidang kehidupan sehingga kehidupan terasa lebih nyaman dan mudah. Tapi sayangnya, saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia merasa cukup miris karena penemuan yang dilakukan orang Indonesia walaupun tidak kalah hebatnya tapi kuantitasnya tidaklah sebanyak yang ditemukan oleh negara lain. Seringkali saya berpikir apakah mungkin otak masyarakat Indonesia kalah ‘encer’ dari mereka yang lahir di benua Amerika ataupun di benua Eropa yang notabene banyak sekali melahirkan ilmuwan-ilmuwan ternama ? Apalagi saya pernah membaca bila kecerdasan seseorang dipengaruhi oleh faktor keturuan atau genetik. Wah kalau hal ini benar adanya, tentu saja masalah besar akan melanda bangsa kita. Bangsa kita akan terus menerus menjadi bangsa terjajah, bangsa yang selalu bergantung terhadap produk hasil penemuan dari bangsa lain. Untungnya, faktor keturunan atau genetik bukanlah satu-satunya faktor penentu kecerdasan seseorang, tetapi terdapat juga unsur lain, yaitu asupan gizi. Dengan kata lain, anak yang terlahir dari orang tua yang cerdas, bila tidak mendapatkan asupan gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja untuk perkembangan otak, daya tahan terhadap penyakit, pertumbuhan, aktivitas fisik, maka bukan tak mungkin jika sang buah hati tidak secerdas orang tuanya.

Apakah asupan gizi yang baik sama artinya dengan makan kenyang ?
Pertanyaan tersebut seringkali dijawab dengan jawaban ‘ya’ karena memang telah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Coba saja jawab pertanyaan ini, “Kapan terakhir kali mengkonsumsi mie instan dibarengi dengan nasi putih ?” Mengkonsumsi mie instan yang dicampur nasi putih memang mengenyangkan perut tapi memiliki efek kurang sehat bagi tubuh dan tubuh akan kekurangan asupan gizi lain, seperti protein, mineral, vitamin, lemak.

Jadi apa asupan gizi yang tepat untuk membentuk kecerdasan dan tumbuh kembang yang baik bagi anak ? 
Asupan gizi yang tepat yang memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan sekaligus baik untuk tumbuh kembang anak adalah makanan yang kaya akan kandungan protein, contohnya seperti DAGING AYAM dan TELUR. 



Daging Ayam mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi. Selain itu, daging ayam pun memiliki kandungan vitamin yang sangat banyak. Sebut saja, vitamin A yang berguna untuk menjaga kesehatan mata, vitamin B yang berguna untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, sistem pencernaan, sistem saraf, mengatasi gangguan jantung, diabetes dan kolesterol tinggi, vitamin D yang berguna untuk membantu penyerapan kalsium serta menguatkan dan menyehatkan tulang. Mineral yang berkandung di dalam daging ayam pun tak kalah banyaknya, seperti zat besi dan fosfor yang berguna untuk mencegah anemia, menjaga kesehatan otak, tulang dan gigi serta dapat memperlacar sistem metabolisme tubuh. Sedangkan telur bukan hanya memiliki kandungan gizi yang terdiri lebih dari 90% kalsium, mineral, zat besi, 9 asam amino esensial, berbagai macam senyawa aktif, berbagai vitamin : vitamin A, vitamin D, vitamin E, riboflavin, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, fosfor dan kalium, tetapi juga mengandung kolin yang memiliki manfaat untuk perkembangan otak pada janin selama masa kehamilan dan membantu mencegah cacat lahir. Kandungan karetoroid pada telur pun sangat baik untuk menjaga kesehatan mata dan vitamin B-kompleks pada kuning telur yang bersama-sama dengan kolin merupakan zat gizi yang baik untuk fungsi sistem saraf.  

Tapi kenyataan dalam lingkup masyarakat Indonesia …?
Ayam dan telur bukanlah merupakan jenis makanan langka di Indonesia dan sangat mudah ditemui, baik untuk masyarakat perkotaan maupun masyarakat yang tinggal di pelosok desa sekalipun. Harganya yang cukup bersahabat bagi kantong masyarakat Indonesia dan berbagai variasi menu masakan yang bisa dibuat dengan bahan dasar daging ayam dan telur telah memberikan nilai plus tersendiri selain merupakan asupan protein yang baik untuk perkembangan kecerdasan otak, pertumbuhan badan balita dan anak-anak serta memenuhi asupan protein hewani yang baik untuk golongan usia lainnya. Tapi sayangnya semua nilai plus di atas tidaklah sejalan dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Mitos yang berkembang di masyarakat bahwa telur menjadi penyebab penyakit bisul ataupun kesehatan yang akan terganggu karena adanya suntikan hormon yang diberikan kepada ayam broiler mungkin merupakan salah satu akar masalahnya selain kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dalam memenuhi asupan gizi bagi tubuhnya.


 Bagaimana hubungan konsumsi daging ayam dan telur dengan tingkat kecerdasan dan kesehatan ?
Tentu saja hubungan antara tingkat konsumsi daging ayam dan telur dengan tingkat kecerdasan dan kesehatan sangatlah berhubungan erat karena proses pembentukan kecerdasan dan kesehatan anak itu sendiri, baik petumbuhan otak maupun organ-organ tubuh lainnya, merupakan suatu proses panjang dan berkesinambungan. Seorang anak yang cerdas dan sehat tidak bisa hanya dibentuk dengan asupan gizi yang baik setelah ia lahir tetapi harus dilakukan sejak dalam masa kandungan dan terus dipertahankan untuk mencapai taraf kecerdasan dan kesehatan yang optimal. Daging ayam dan telur sebagai sumber protein hewani yang lengkap dan mudah dicerna oleh tubuh merupakan salah satu asupan gizi yang penting bagi pertumbuhan otak, perkembangan kecerdasan, fungsi motorik dan bicara. Di dalam masa kandungan, protein berperan penting dalam perkembangan sel otak janin dan dalam masa tumbuh kembang anak, protein bersama-sama dengan karbohidrat dan lemak berperan menghasilkan tenaga yang digunakan untuk berkonsentrasi dalam belajar, menyerap pengetahuan dan informasi baru, bermain, bereksplorasi, membangun daya tahan tubuh dan aktif beraktifitas sehari-hari. 

Yuk dalam rangka memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2017 ini, kita mulai konsumsi daging ayam dan telur secara rutin dan tentunya tidak terbatas pada golongan usia tertentu. Misalnya saja pada saat sarapan. Menu sarapan dengan protein yang tinggi, seperti telur rebus, akan membantu anak dan golongan usia lainnya dapat belajar dan bekerja dengan lebih kreatif dan fokus. Ini merupakan modal yang baik dalam mencapai kesuksesan. Ingat, tak ada kata terlambat mengingat manfaat yang begitu besar yang dirasakan ketika kita mengkonsumsi daging ayam dan telur. Kemampuannya dalam mengontrol tekanan darah, mengurangi resiko penumpukan kolesterol dan menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit dan perubahan cuaca tak perlu diragukan lagi sehingga bila kesehatan tubuh setiap individu sudah prima, niscaya akan dihasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat dan berperan aktif dalam membangun bangsa dan dunia. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar