Hidup
sebagai generasi di era teknologi seperti sekarang ini memang sangat
membanggakan. Berkat kemajuan teknologi yang berkembang pesat, banyak sekali
kreasi spetakuler yang tak pernah terbayangkan sebelumnya tercipta dari tangan
dingin para inventor dunia dalam berbagai bidang kehidupan sehingga kehidupan
terasa lebih nyaman dan mudah. Tapi sayangnya, saya sebagai bagian dari
masyarakat Indonesia merasa cukup miris karena penemuan yang dilakukan orang
Indonesia walaupun tidak kalah hebatnya tapi kuantitasnya tidaklah sebanyak
yang ditemukan oleh negara lain. Seringkali saya berpikir apakah mungkin otak
masyarakat Indonesia kalah ‘encer’ dari mereka yang lahir di benua Amerika
ataupun di benua Eropa yang notabene banyak sekali melahirkan ilmuwan-ilmuwan
ternama ? Apalagi saya pernah membaca bila kecerdasan seseorang dipengaruhi
oleh faktor keturuan atau genetik. Wah kalau hal ini benar adanya, tentu saja
masalah besar akan melanda bangsa kita. Bangsa kita akan terus menerus menjadi
bangsa terjajah, bangsa yang selalu bergantung terhadap produk hasil penemuan
dari bangsa lain. Untungnya, faktor keturunan atau genetik bukanlah
satu-satunya faktor penentu kecerdasan seseorang, tetapi terdapat juga unsur
lain, yaitu asupan gizi. Dengan kata lain, anak yang terlahir dari orang tua
yang cerdas, bila tidak mendapatkan asupan gizi yang baik sejak di dalam
kandungan sampai remaja untuk perkembangan otak, daya tahan terhadap penyakit,
pertumbuhan, aktivitas fisik, maka bukan tak mungkin jika sang buah hati tidak
secerdas orang tuanya.
Apakah asupan gizi yang baik sama
artinya dengan makan kenyang ?
Pertanyaan
tersebut seringkali dijawab dengan jawaban ‘ya’ karena memang telah menjadi
gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Coba saja jawab pertanyaan ini,
“Kapan terakhir kali mengkonsumsi mie instan dibarengi dengan nasi putih ?”
Mengkonsumsi mie instan yang dicampur nasi putih memang mengenyangkan perut
tapi memiliki efek kurang sehat bagi tubuh dan tubuh akan kekurangan asupan
gizi lain, seperti protein, mineral, vitamin, lemak.
Jadi apa asupan gizi yang tepat
untuk membentuk kecerdasan dan tumbuh kembang yang baik bagi anak ?
Asupan
gizi yang tepat yang memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan
sekaligus baik untuk tumbuh kembang anak adalah makanan yang kaya akan
kandungan protein, contohnya seperti DAGING AYAM dan TELUR.
Daging Ayam
mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi. Selain itu, daging ayam pun
memiliki kandungan vitamin yang sangat banyak. Sebut saja, vitamin A yang
berguna untuk menjaga kesehatan mata, vitamin B yang berguna untuk menjaga
sistem kekebalan tubuh, sistem pencernaan, sistem saraf, mengatasi gangguan
jantung, diabetes dan kolesterol tinggi, vitamin D yang berguna untuk membantu
penyerapan kalsium serta menguatkan dan menyehatkan tulang. Mineral yang
berkandung di dalam daging ayam pun tak kalah banyaknya, seperti zat besi dan
fosfor yang berguna untuk mencegah anemia, menjaga kesehatan otak, tulang dan
gigi serta dapat memperlacar sistem metabolisme tubuh. Sedangkan telur bukan
hanya memiliki kandungan gizi yang terdiri lebih dari 90% kalsium, mineral, zat
besi, 9 asam amino esensial, berbagai macam senyawa aktif, berbagai vitamin :
vitamin A, vitamin D, vitamin E, riboflavin, asam folat, vitamin B6, vitamin
B12, fosfor dan kalium, tetapi juga mengandung kolin yang memiliki manfaat untuk
perkembangan otak pada janin selama masa kehamilan dan membantu mencegah cacat
lahir. Kandungan karetoroid pada telur pun sangat baik untuk menjaga kesehatan
mata dan vitamin B-kompleks pada kuning telur yang bersama-sama dengan kolin
merupakan zat gizi yang baik untuk fungsi sistem saraf.
Tapi kenyataan dalam lingkup
masyarakat Indonesia …?
Ayam
dan telur bukanlah merupakan jenis makanan langka di Indonesia dan sangat mudah
ditemui, baik untuk masyarakat perkotaan maupun masyarakat yang tinggal di pelosok
desa sekalipun. Harganya yang cukup bersahabat bagi kantong masyarakat
Indonesia dan berbagai variasi menu masakan yang bisa dibuat dengan bahan dasar
daging ayam dan telur telah memberikan nilai plus tersendiri selain merupakan
asupan protein yang baik untuk perkembangan kecerdasan otak, pertumbuhan badan
balita dan anak-anak serta memenuhi asupan protein hewani yang baik untuk
golongan usia lainnya. Tapi sayangnya semua nilai plus di atas tidaklah sejalan
dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah
dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Mitos yang berkembang di masyarakat
bahwa telur menjadi penyebab penyakit bisul ataupun kesehatan yang akan
terganggu karena adanya suntikan hormon yang diberikan kepada ayam broiler mungkin
merupakan salah satu akar masalahnya selain kurangnya tingkat kesadaran
masyarakat dalam memenuhi asupan gizi bagi tubuhnya.
Bagaimana hubungan konsumsi daging
ayam dan telur dengan tingkat kecerdasan dan kesehatan ?
Tentu
saja hubungan antara tingkat konsumsi daging ayam dan telur dengan tingkat
kecerdasan dan kesehatan sangatlah berhubungan erat karena proses pembentukan kecerdasan dan kesehatan anak itu sendiri, baik petumbuhan otak maupun organ-organ tubuh lainnya,
merupakan suatu proses panjang dan berkesinambungan. Seorang anak yang cerdas dan sehat tidak bisa hanya dibentuk dengan asupan gizi yang baik setelah ia lahir tetapi
harus dilakukan sejak dalam masa kandungan dan terus dipertahankan untuk
mencapai taraf kecerdasan dan kesehatan yang optimal. Daging ayam dan telur sebagai sumber
protein hewani yang lengkap dan mudah dicerna oleh tubuh merupakan salah satu
asupan gizi yang penting bagi pertumbuhan otak, perkembangan kecerdasan, fungsi
motorik dan bicara. Di dalam masa kandungan, protein berperan penting dalam
perkembangan sel otak janin dan dalam masa tumbuh kembang anak, protein
bersama-sama dengan karbohidrat dan lemak berperan menghasilkan tenaga yang
digunakan untuk berkonsentrasi dalam belajar, menyerap pengetahuan dan
informasi baru, bermain, bereksplorasi, membangun daya tahan tubuh dan aktif beraktifitas sehari-hari.
Yuk dalam rangka memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2017 ini, kita mulai konsumsi daging ayam dan telur secara rutin dan tentunya tidak
terbatas pada golongan usia tertentu. Misalnya saja pada saat sarapan. Menu sarapan dengan protein yang tinggi, seperti telur rebus, akan membantu anak dan golongan usia lainnya dapat belajar dan bekerja dengan lebih kreatif dan fokus. Ini merupakan modal yang baik dalam mencapai kesuksesan. Ingat, tak ada kata terlambat mengingat manfaat yang begitu besar yang dirasakan ketika kita mengkonsumsi daging ayam dan telur. Kemampuannya dalam mengontrol tekanan darah, mengurangi resiko
penumpukan kolesterol dan menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit dan
perubahan cuaca tak perlu diragukan lagi sehingga bila kesehatan tubuh setiap
individu sudah prima, niscaya akan dihasilkan generasi penerus bangsa yang
cerdas, sehat dan berperan aktif dalam membangun bangsa dan dunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar